Cara Menghitung Biaya Produksi: Rumus dan Contoh Lengkap

menghitung biaya produksi

Menghitung biaya produksi adalah langkah pertama yang tidak bisa dilewati sebelum menentukan harga jual. Tanpa angka ini, Anda hanya bisa menebak apakah bisnis sedang untung atau justru merugi tanpa disadari.

Biaya produksi adalah total semua pengeluaran yang dikeluarkan selama proses mengubah bahan baku menjadi produk jadi. Rumus dasarnya sederhana: Biaya Produksi = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead Pabrik. Namun, ketiga komponen itu masing-masing punya cara hitung tersendiri yang perlu dipahami dengan benar agar hasilnya akurat.

Artikel ini membahas komponen biaya produksi, rumus, langkah-langkah menghitungnya, dan contoh kasus yang bisa langsung Anda terapkan.

Komponen Biaya Produksi yang Harus Dicatat

Sebelum masuk ke rumus, pahami dulu apa yang harus masuk dalam perhitungan. Ada tiga komponen utama yang membentuk total biaya produksi, dan ketiganya tidak bisa diabaikan salah satunya.

1. Biaya Bahan Baku Langsung

Bahan baku langsung adalah semua material yang secara fisik menjadi bagian dari produk akhir. Untuk usaha makanan, ini mencakup tepung, telur, gula, dan kemasan. Untuk industri furnitur, ini adalah kayu, cat, dan paku. Cara menghitungnya cukup langsung: jumlah bahan yang dipakai dikalikan harga per satuan.

Biaya bahan baku seharusnya dihitung dari bahan yang benar-benar terpakai, bukan dari total bahan yang dibeli. Rumusnya: Bahan Baku Terpakai = Persediaan Awal + Pembelian Baru – Sisa Persediaan Akhir.

2. Biaya Tenaga Kerja Langsung

Biaya tenaga kerja langsung adalah upah karyawan yang terlibat langsung dalam proses produksi. Operator mesin, tukang jahit di pabrik konveksi, atau koki di dapur katering semuanya termasuk dalam kategori ini. Yang tidak termasuk adalah gaji manajer, staf administrasi, atau satpam, karena mereka masuk ke komponen overhead.

Penghitungannya bisa dilakukan berdasarkan jam kerja: tarif upah per jam dikalikan total jam kerja yang dihabiskan untuk memproduksi. Jika karyawan digaji bulanan dan bekerja untuk beberapa lini produksi, pembagian proporsional berdasarkan jam yang dialokasikan per produk diperlukan.

3. Biaya Overhead Pabrik

Biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi di luar bahan baku dan tenaga kerja langsung. Ini ibarat biaya “penunjang” yang tidak bisa dihindari tapi sering kali tidak langsung terlihat berkontribusi ke produk. Contohnya: tagihan listrik pabrik, penyusutan mesin, sewa gedung, biaya perawatan peralatan, dan gaji supervisor.

Menurut Ilmu Manajemen Industri, biaya overhead pabrik terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan sifatnya:

  • Biaya tetap (fixed overhead): Tidak berubah meskipun volume produksi naik atau turun. Contoh: sewa gedung dan gaji supervisor tetap sama baik produksi 100 unit maupun 1.000 unit.
  • Biaya variabel (variable overhead): Berubah seiring volume produksi. Contoh: biaya listrik dan bahan pelumas mesin akan meningkat saat produksi bertambah.
  • Biaya semi-variabel (semi-variable overhead): Punya komponen tetap dan variabel sekaligus. Tagihan telepon pabrik misalnya: ada biaya abonemen tetap, tapi bertambah jika pemakaian meningkat.

Rumus Menghitung Biaya Produksi

Setelah semua komponen tercatat, hitung total biaya produksi dengan rumus berikut:

Total Biaya Produksi = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead Pabrik

Dari total biaya produksi, Anda bisa mendapatkan biaya produksi per unit yang dibutuhkan untuk menentukan harga jual:

Biaya Produksi per Unit = Total Biaya Produksi / Jumlah Unit yang Diproduksi

Rumus ini serupa dengan menghitung ongkos perjalanan per orang dalam rombongan: total ongkos dibagi jumlah orang. Semakin banyak unit yang diproduksi, semakin kecil biaya per unitnya, terutama untuk komponen biaya tetap.

Langkah-Langkah Menghitung Biaya Produksi

Menghitung biaya produksi bukan pekerjaan satu langkah. Prosesnya bertahap, dan setiap tahap bergantung pada data dari tahap sebelumnya.

Langkah 1: Catat Semua Biaya Bahan Baku

Mulai dengan mendokumentasikan semua bahan yang digunakan dalam satu periode produksi. Gunakan kartu stok atau catatan persediaan untuk mengetahui berapa banyak bahan yang benar-benar terpakai, bukan hanya yang dibeli. Hitung: saldo bahan baku awal + pembelian periode ini – saldo akhir = bahan baku yang digunakan.

Langkah 2: Hitung Biaya Tenaga Kerja Langsung

Kumpulkan data absensi dan jam kerja karyawan produksi. Kalikan jam kerja dengan tarif upah per jam. Jika ada lembur, hitung terpisah dengan tarif lembur yang berlaku. Pastikan hanya karyawan yang terlibat langsung dalam produksi yang dimasukkan di sini.

Langkah 3: Akumulasi Biaya Overhead

Kumpulkan semua tagihan dan pengeluaran yang termasuk overhead: listrik, air, sewa, penyusutan mesin, biaya perawatan, gaji staf pendukung di area produksi. Jumlahkan semuanya untuk mendapatkan total overhead periode tersebut.

Langkah 4: Jumlahkan Ketiga Komponen

Tambahkan biaya bahan baku + biaya tenaga kerja langsung + biaya overhead. Hasilnya adalah total biaya produksi periode tersebut.

Langkah 5: Hitung Biaya per Unit

Bagi total biaya produksi dengan jumlah unit yang berhasil diproduksi dalam periode yang sama. Angka ini adalah biaya pokok produksi per unit, yang menjadi dasar penentuan harga jual.

Contoh Perhitungan Biaya Produksi

Untuk memahami cara kerja rumusnya, mari gunakan contoh konkret. Sebuah usaha kecil memproduksi 500 kotak kue kering dalam satu bulan dengan data berikut:

Data Biaya

Biaya Bahan Baku:

  • Tepung terigu: Rp1.200.000
  • Mentega dan gula: Rp900.000
  • Cokelat dan kacang: Rp750.000
  • Kemasan kotak: Rp600.000
  • Total Bahan Baku: Rp3.450.000

Biaya Tenaga Kerja Langsung:

  • 3 karyawan baker, masing-masing 22 hari kerja x Rp80.000/hari
  • Total Tenaga Kerja: Rp5.280.000

Biaya Overhead Pabrik:

  • Listrik dapur produksi: Rp800.000
  • Gas elpiji: Rp450.000
  • Penyusutan oven dan mixer: Rp300.000
  • Sewa dapur produksi: Rp1.000.000
  • Gaji supervisor: Rp500.000
  • Total Overhead: Rp3.050.000

Hasil Perhitungan

Total Biaya Produksi = Rp3.450.000 + Rp5.280.000 + Rp3.050.000 = Rp11.780.000

Biaya Produksi per Unit = Rp11.780.000 / 500 kotak = Rp23.560 per kotak

Dari angka ini, usaha tersebut tahu bahwa setiap kotak kue kering membutuhkan biaya produksi Rp23.560. Jika target laba 30%, maka harga jual minimalnya adalah sekitar Rp30.600 per kotak.

Biaya Tetap vs Biaya Variabel dalam Produksi

Selain tiga komponen utama di atas, ada cara lain memandang biaya produksi: dari sisi perilakunya terhadap perubahan volume produksi.

Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang jumlahnya tidak berubah berapa pun unit yang diproduksi. Sewa gedung, cicilan mesin, dan gaji manajer tetap sama baik Anda memproduksi 100 unit maupun 10.000 unit. Karena itu, semakin banyak produksi, biaya tetap per unit semakin kecil. Inilah yang disebut skala ekonomi.

Biaya variabel (variable cost) berubah berbanding lurus dengan volume produksi. Biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung umumnya termasuk di sini. Jika produksi naik dua kali lipat, biaya ini ikut naik dua kali lipat.

Perbedaan ini krusial saat Anda mempertimbangkan apakah perlu menambah kapasitas produksi. Bisnis dengan biaya tetap tinggi akan sangat diuntungkan dari peningkatan volume karena biaya tetap per unit turun drastis.

Baca juga: Akuntansi Biaya Adalah

Mengapa Perhitungan Biaya Produksi Sering Tidak Akurat

Banyak usaha kecil yang akhirnya menetapkan harga terlalu rendah karena tidak mencatat semua komponen biaya dengan benar. Ada beberapa kesalahan umum yang perlu dihindari.

Pertama, melupakan penyusutan alat. Mesin dan peralatan memiliki masa pakai terbatas. Setiap bulan nilainya berkurang, dan biaya penyusutan itu seharusnya dibebankan ke produksi. Jika diabaikan, Anda seolah “meminjam” nilai aset tanpa memperhitungkannya sebagai biaya.

Kedua, tidak menghitung waktu pemilik usaha sebagai biaya. Bagi UMKM yang pemiliknya terlibat langsung di produksi, jam kerja pemilik harus dihitung dengan nilai yang wajar. Kalau tidak, laporan laba terlihat bagus padahal sebenarnya pemilik sedang “mensubsidi” produksi dengan waktunya sendiri.

Ketiga, mencampur biaya produksi dengan biaya pemasaran dan administrasi. Biaya promosi, ongkos kirim ke konsumen, dan gaji staf penjualan bukan bagian dari biaya produksi. Memasukkannya akan membuat perhitungan harga pokok menjadi tidak tepat.

Menurut data dari Zahir Accounting, penghitungan biaya overhead yang tidak akurat adalah sumber kesalahan paling umum dalam akuntansi biaya produksi, terutama untuk usaha yang baru berkembang. Biaya ini sering diabaikan karena tidak terlihat langsung di produk, padahal kontribusinya bisa mencapai 20-30% dari total biaya produksi.

Hubungan Biaya Produksi dengan Harga Pokok Penjualan

Biaya produksi dan harga pokok penjualan (HPP) adalah dua hal yang berkaitan erat tapi tidak identik. Biaya produksi mencakup semua pengeluaran selama proses membuat produk. HPP adalah biaya produksi dari produk yang sudah terjual dalam periode tertentu.

Hubungannya seperti ini: tidak semua yang diproduksi langsung terjual. Jika Anda memproduksi 500 unit tapi hanya menjual 400 unit bulan ini, maka HPP dihitung dari 400 unit saja. Sisanya 100 unit masuk ke persediaan dan HPP-nya akan dihitung di bulan berikutnya saat terjual.

Rumus HPP: HPP = Persediaan Produk Awal + Total Biaya Produksi – Persediaan Produk Akhir.

HPP ini yang kemudian dilaporkan dalam laporan laba rugi sebagai pengurang pendapatan penjualan, bukan total biaya produksi. Inilah mengapa pembukuan yang terpisah antara produksi dan penjualan sangat diperlukan untuk laporan keuangan yang akurat.

Untuk mendukung pencatatan yang lebih rapi, banyak pelaku usaha kini menggunakan software akuntansi seperti Zahir Accounting yang dapat mengintegrasikan data produksi, persediaan, dan laporan keuangan secara otomatis.

Cara Menekan Biaya Produksi Tanpa Mengurangi Kualitas

Setelah tahu cara menghitung, langkah berikutnya adalah menggunakan angka itu untuk efisiensi. Menghitung biaya produksi bukan hanya soal mengetahui berapa yang keluar, tapi juga menemukan di mana ada pemborosan yang bisa dikurangi.

Efisiensi bahan baku adalah salah satu area paling langsung untuk diperbaiki. Lacak tingkat pemborosan (sisa bahan, produk gagal, bahan rusak) dan bandingkan dengan bulan sebelumnya. Penurunan 5% saja pada pemborosan bahan baku bisa berdampak signifikan pada total biaya produksi.

Pada sisi tenaga kerja, evaluasi apakah pengaturan giliran kerja (shift) sudah efisien. Waktu tunggu mesin, jam lembur yang tidak terencana, atau kelebihan jumlah karyawan di hari tertentu adalah biaya yang bisa dikurangi dengan perencanaan jadwal yang lebih baik.

Untuk overhead, audit tagihan listrik secara rutin. Mesin yang dibiarkan menyala saat tidak digunakan, sistem pendingin yang tidak dioptimalkan, atau lampu yang tidak dimatikan setelah jam kerja adalah kebocoran kecil yang terakumulasi menjadi signifikan dalam setahun.

Menghitung biaya produksi dengan cermat bukan pekerjaan satu kali. Lakukan setiap bulan, bandingkan tren dari periode ke periode, dan identifikasi komponen mana yang naik tidak wajar. Data itu adalah alat kendali yang paling jujur untuk bisnis produksi Anda.

Scroll to Top